Showing posts with label Dewasa. Show all posts
Showing posts with label Dewasa. Show all posts

Mar 17, 2010

Drunken Monster: Kumpulan Kisah Tidak Teladan (Cacatan Harian Pidi Baiq)


By : Pidi Baiq
Published :2008 by DAR! Mizan

Details : Paperback, 204 pages
isbn13 :9789797528324
Rating : 1 of 5 stars
Bookshelves : buku minjem
Status : Read in March, 2010

Ya ampun....., ini buku apaan sih ?? Gak jelas bangeth.
Maksudnya Kang Pidi mungkin mau melucu dengan tulisannya yang gak jelas ditambah strukur bahasa yang super berantakan. Tapi sumpah deh... menurut aku buku ini sama sekali enggak lucu.

Ini memang catatan harian yang asal-asalan dari manusia super usil. Cuma menurut aku kok kadang-kadang usilnya kelewat norak, dan satu hal yang bikin aku tambah enggak 'respect' adalah tulisan yang menceritakan betapa murah hatinya Kang Pidi dengan membagi-bagikan uangnya kepada orang-orang yang kurang beruntung. Kesannya kok 'SOK PAMER' bangeth ya. Atau mungkin akunya aja yang iri hati ya ?? Habis aku selalu mengingat pesan seorang guru yang mengatakan 'Kalau tangan kanan kita memberi, maka sebaiknya tangan kiri tidak perlu tahu'. Jadi menurut aku, yang kayak gitu gak usah diekspos deh...

Heran aja, kok ada ya yang mau menerbitkan buku kaya' gini ??

However, thanks to Sani yang udah minjemin buku ini.

Mar 14, 2010

Sarinah Kembang Cikembang: Kumpulan sembilan cerita pendek (Seri sastra pembangunan)



By : Satyagraha Hoerip Soeprobo
Published : 1993 by Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara
Details : Softcover,150 pages
isbn : 9798312562 (isbn13: 9789798312564)

Rating : 4 of 5 stars
Status : Read in March, 2010
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf

Thanks to Inas for giving me this book.

Membaca buku ini membuatku merasa tersentuh sekaligus gemas.
Buku terbitan tahun 1993 hadiah dari seorang teman ini mengangkat kisah tentang orang-orang kecil yang tersingkirkan, tentang para pejuang yang lupa akan tujuan awal perjuangannya (menegakkan keadilan dan kemakmuran secara merata bagi seluruh rakyat), tentang para pejabat yang terlena duduk di kursi empuk dan mengingkari sumpah jabatannya.

Judul yang diambil untuk buku ini sendiri bercerita tentang seorang PSK yang harus menumpahkan seluruh tenaganya dengan bercucuran keringat demi kelangsungan hidup keluarganya di desa. Pekerjaan yang dengan sangat terpaksa harus dijalaninya, sangat kontras bila dibandingkan dengan para pemimpin negeri yang hanya dengan sebelah tangan begitu mudah menumpuk kekayaan dengan cara merampok uang rakyat.

Simaklah kalimat2 berikut :

"... Kalian adalah pencari makan andalan seluruh keluarga. Tanpa pengorbanan kalian, matilah seluruh keluargamu oleh kelaparan yang tak terlawan......
..... sebaliknya para koruptor, mereka tidak akan mati andaikan tidak korupsi. Jadi mereka melakukan itu bukanlah karena ancaman kelaparan tetapi karena mental mereka yang bobrok. Mereka korupsi bukan karena terpaksa seperti kalian para WTS." (hlm.131)


"Kalau kalian benar sampah masyarakat seperti yang dianggap bangsaku, seharusnya bangsaku juga berani memberi gelar kepada para koruptor, manipulator dan para pemungut komisi sebagai 'Sampah Bangsa'. Minimal 'Sampah Pancasila'. Atau 'Sampah Republik Indonesia'. Coba berani atau tidak, bangsa kita ini ?" (hlm.29).

Sebuah ungkapan yang penuh tantangan.
Lalu, beranikah kita ??

Mar 4, 2010

Jejak Kala





By : Anindita S. Thayf

Published :2009 by Andi Publisher

Details : Paperback, 194 pages
isbn13 : 9789792906585 

rating: 3 of 5 stars
bookshelves: buku-beli, my-shelf
status: Read in March, 2010

Beli di TMBookstore, Depok. 

Kesedihan, kesengsaraan, dan kesakitan adalah tempaan hidup, sekaligus ranjau darat yang memaksa manusia menciptakan tempat-tempat pelarian jika tanpa sengaja menginjaknya dan membuat mereka terluka atau kehilangan kaki.
Kala, seorang perempuan miskin yang harus rela kehilangan masa kecilnya karena harus membantu ibunya mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bangun sebelum matahari terbit, menempuh perjalanan melintasi hutan,  bekerja keras sepanjang hari, dan baru kembali pulang ketika matahari telah berangkat tidur. Namun kenyataan tersebut tak mampu menyurutkan keceriaannya sebagai kanak-kanak.
Nasib lalu membawa Kala pada kehidupan kota besar. Dari seorang pembantu di keluarga Pak Dukuh di desanya, Kala beralih menjadi pengasuh anak bagi sebuah keluarga menengah. Nasib pula yang mengantarkannya ke bangku sekolah walau hanya sampai tingkat SMP.
Jatuh cinta pertama kali pada seorang pemuda mengenalkan Kala pada rasa sakit akan sebuah cinta yang tak terbalas. Hingga usia senja Kala tak juga menemukan tempat yang tepat bagi pelabuhan hatinya. Kala yang bagi kalangan penduduk di desanya dianggap sebagai orang yang cukup berhasil, harus melewati saat-saat akhir hidupnya dalam kesendirian. Ternyata kepergiannya pun menyisakan suatu keadaan yang membuat saya merasa miris.
Jejak Kala, sebuah potret kehidupan seorang perempuan lugu yang selalu dipandang rendah.
Setelah membaca 2 buku Anin sebelumnya (Tanah Tabu dan Tirai Hujan), saya merasa buku ini terlalu biasa. Membaca buku ini lebih seperti membaca biografi seseorang yang sayangnya tidak terlalu mengejutkan . Nilai lebih yang dapat diberikan adalah gaya Anin bertutur yang membuat pembaca tidak bosan untuk tetap mengikuti ceritanya sampai selesai. Bagaimanapun, buku ini cukup layak untuk dibaca, dimana kita bisa melihat sisi lain dari bermacam-macam cerita kehidupan yang ada di dunia ini. Dan tentu saja mengambil hikhmahnya.

Mar 3, 2010

Belantik (Bekisar Merah II)



By : Ahmad Tohari
Published : 2001 by Gramedia
Details : Soft Caver, 142 pages
isbn : 9796556073 (isbn13: 9789796556076)

Rating : 4 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
status : Read in February, 2010

Thanks to Asrori for buying me this book. Love it so much…

Belantik merupakan sekuel dari buku Bekisar Merah. Belantik sendiri menurut KBBI mempunyai dua arti. Yang pertama berarti alat penangkap binatang (perangkap), sedangkan arti yang kedua adalah makelar.

Belantik sendiri masih berkisah tentang Lasi, perempuan cantik asal Karangsoga, berdarah Jepang-Indonesia yang terperangkap dalam jebakan yang dibuat oleh Bu Lanting, seorang mucikari kelas atas di ibukota. Memang Lasi tidak-lah dijadikan PSK sembarangan, tetapi keluguannya membuat Lasi tak juga menyadari bila dirinya hanyalah sepotong tubuh yang tengah dieksploitasi secara besar-besaran oleh Bu Lanting. Ia dijadikan mesin pengeruk uang dengan cara menjadikannya istri simpanan para kaum berpunya.

Setahun menjadi istri Handarbeni, Lasi belum juga memahami peran yang tengah dilakoninya. Secara jujur, ia berusaha untuk menjadi istri yang baik dan setia bagi laki-laki yang menikahinya hanya demi gengsi, demi menjaga prestise akan kelaki-lakiannya di lingkungan sosialnya. Namun melalui sebuah negosiasi, Handarbeni bersedia menyerahkan Lasi kepada Bambung demi jabatan dan kedudukan yang menggiurkan. Dan menjadi tugas Bu Lanting-lah untuk membuat Lasi tak punya pilihan selain mengikuti apa yang telah diperintahkan.

Dengan licik, Bu Lanting berhasil membuat Lasi menerima pemberian Bambung bernilai milyaran rupiah dan membuat Lasi terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak dikehendakinya berdua Bambung. Kekecewaan Lasi-pun bertambah ketika mengetahui bahwa Handarbeni-pun begitu ringan menceraikannya untuk di’hibah’kan kepada Bambung. Lasi semakin gagap menghadapi kenyataan pahit itu. Dalam segala kebingungannya Lasi melarikan diri bersama Kanjat, teman sepermainannya sejak kecil, setelah dinikahkan di bawah tangan oleh Eyang Mus. Namun Bu Lanting selalu dapat menemukannya.

Jadilah Lasi kembali menghuni sebuah sangkar emas sebagai bekisar bagi Bambung. Namun dengan cerdas Lasi mampu menjaga kesucian kehamilannya dan menyelamatkannya dari usaha pengguguran yang akan dilakukan oleh Bu Lanting.

Politik, bagaimanapun juga selalu penuh dengan tangan yang belepotan kotoran dari orang-orang yang serakah. Kemapanan Bambung sebagai seorang pelobi kelas dunia dianggap mengancam kestabilan pemerintahan saat itu, maka sebuah konspirasi-pun dibuat guna menjatuhkan Bambung dan menyeretnya ke dalam penjara. Lasi yang tak mengerti apa-apa tentang politik, turut terseret ke dalam kemelut ini. Mampukah Lasi melepaskan diri dari semua permasalahan ini ??

Belantik dibandingkan Bekisar Merah terasa kurang menggigit, ataukah mungkin dalam buku ini tak lagi diceritakan kehidupan kaum kelas bawah seperti buku sebelumnya ??
Entahlah, tapi seperti buku-buku Ahmad Tohari yang lain, Belantik tetap menarik buat dibaca, dan gaya bertutur yang khas dan jauh dari membosankan membuat kita enggan berhenti membacanya sebelum tuntas. Dan pada akhirnya buku ini buat saya tetap layak untuk diberi 4 bintang.

Mar 2, 2010

Bekisar Merah



By : Ahmad Tohari
Published : 1993 by Gramedia Pustaka Utama
Details : Softcover, 312 pages
isbn : 9795117661 (isbn13: 9789795117667)

Rating : 4 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in February, 2010

Thanks to Asrori for buying me this book. I love it so much...!

Lasi, seorang perempuan desa dengan segala keluguannya. Terlahir dengan darah campuran Jepang dan Indonesia, menjadikannya seorang perempuan dengan kecantikan khas yang unik, yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan lain di desanya. Sayang nasib yang kurang beruntung selalu setia mendampinginya sepanjang masa kanak-kanak dan remajanya. Lasi kecil sering mendengar gunjingan yang menyakitkan hati dan telinga tentang perkawinan kedua orang tuanya. Label “Lasipang” pun melekat pada dirinya yang selalu menjadi bahan olok-olok teman-teman sebayanya. Hanya Kanjat-lah yang tak pernah mengolok-oloknya. Kanjat yang anak tengkulak gula terkaya di Karangsoga dan dua tahun lebih muda darinya, yang diam-diam menaruh hati padanya.

Pun ketika dewasa, label tersebut pula yang menyebabkan tak ada pemuda yang berani mendekatinya. Label yang menyebabkannya tak terpilih untuk lolos dalam penilaian babat, bibit, bebet yang sangat ketat dalam tradisi Karangsoga. Meski tak seorangpun menyangkal betapa kecantikannya mampu membuat hati setiap laki-laki yang memandangnya tergetar.

Adalah Darsa, lelaki keponakan ayah tirinya yang kemudian menikahinya. Namun kebahagiaan itu pun tak berlangsung lama. Darsa tertimpa musibah jatuh dari pohon kelapa ketika menyadap nira dan membuatnya tak berdaya selama 6 bulan. Setelah melewati masa sulit itu, ternyata Darsa malah mengkhianatinya dengan menanamkan benih pada Sipah, anak Bunek , tukang urut yang merawatnya.

Dalam keputus-asaan Lasi pergi membawa lukanya ke Jakarta. Ia terdampar di warung Bu Koneng, lalu beralih ke rumah mewah milik Bu Lanting. Lasi dimanjakan bak seorang putri, diberikan segala kemewahan yang tak pernah dimilikinya ketika masih menjadi istri Darsa di desa. Walau masih terasa gamang, perlahan Lasi mulai menikmati kehidupannya tanpa sadar bahwa ia tengah merangkak ke dalam sebuah perangkap yang telah disiapkan untuknya.

Ketidakmampuannya untuk menolak telah mengantarkan Lasi menjadi seekor bekisar pengisi sangkar emas bagi Handarbeni seorang purnawirawan kaya. Dunia yang sama sekali asing bagi Lasi. Gagap Lasi menyadari bahwa segalanya hanyalah sebuah permainan kotor ibukota. Jiwanya menjadi gelisah, segala yang dimilikinya sama sekali tidak memberikan ketenangan yang nyata. Meski hidup bergelimang harta, namun Lasi lebih menikmati hidup sebagai seorang petani gula di desanya. Dimana ia merasa mempunyai makna bagi kehidupan yang dijalaninya. Dimana setiap rejeki yang diterimanya benar-benar berasal dari keringat di tubuhnya atas kerja kerasnya.

Jauh di dasar hatinya, menghabiskan sisa hidupnya di Karangsoga adalah impian yang tak pernah pudar, meski ketakutan akan pandangan masyarakat di desanya tetap menjadi momok yang menyesakkan dada. Seandainya saja Kanjat berani mengambil tindakan yang lebih. Ya…, seandainya saja.

Seperti yang sudah-sudah, Ahmad Tohari selalu bertutur tentang kehidupan masyarakat kelas bawah dengan segala permasalahannya.
Buku ini menjadi lebih menarik karena penulis mengangkat kisah kehidupan para petani gula di desa Karangsoga. Melukiskan betapa kehidupan mereka sebagai bagian terbawah dari mata rantai sebuah siklus bisnis gula yang mendulang rupiah cukup banyak dan mampu memberikan kemakmuran bagi mereka yang berada pada susunan rantai teratas, harus terpuruk hidup dalam keterbatasan. Jangankan untuk menikmati kemewahan, dapat memenuhi kebutuhan akan bahan pangan sehari-hari pun sudah merupakan suatu kenikmatan yang teramat sangat mereka syukuri.
Seperti buku-buku Ahmad Tohari yang lain, suasana alam pedesaan pun sangat kental digambarkan dalam buku ini.

Tak berbeda jauh dengan Ronggeng Dukuh Paruk, Bekisar Merah juga mengangkat kisah tentang keluguan seorang perempuan desa yang tak berdaya dipermainkan oleh nasib, dimana mereka harus memainkan peranan yang sama sekali tak dapat dinikmatinya betapapun mereka berusaha, betapa mereka harus merelakan cinta sejati yang seharusnya dapat mereka miliki.

Benarkah bahwa kita manusia hanya menjalani apa yang telah digariskan oleh YANG MAHA KUASA ?? Segala yang terjadi dalam hidup kita telah diatur oleh-NYA. Lalu untuk apakah manusia diberi hati dan akal pikiran ?? Bukankah kedua hal tersebut seharusnya mampu membuat kita sebagai manusia menentukan pilihan hidup yang tepat ?? Wallahualam…..

Feb 23, 2010

Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965: Melihat Peristiwa G30S dari Perspektif Lain



By : James Luhulima
Published : January 2007 by Penerbit Buku Kompas
(first published 2006)
Details : Paperback, 204 pages
isbn : 9797092666 (isbn13: 9789797092665)

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-beli, my-shelf
Status : Read in May, 2007

Siapapun kita, bangsa Indonesia yang mengalami masa sekolah di era Orde Baru tentu mempunyai gambaran tentang betapa kejamnya PKI yang telah membantai 7 Jenderal putera terbaik bangsa Indonesia pada tahun 1965. Melalui buku ini James Luhulima mengajak kita melihat peristiwa tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Penulis mencoba menyingkapkan fakta-fakta yang ada terkait dengan peristiwa tersebut. Ternyata sejarah tidaklah selalu berarti peristiwa yang benar-benar pernah terjadi, tetapi lebih pada bagaimana pemerintah membentuk opini masyarakat terhadap sebuah peristiwa. Terlepas dari siapa yang benar dan salah, peristiwa 30 September 1965 telah meninggalkan luka yang dalam bagi bangsa Indonesia.

Feb 19, 2010

Incest: Kisah Kelam Kembar Buncing



By : I Wayan Artika
Published : July 3rd 2008 by Interpree Book
Details : 266 pages
isbn : 9789791838

Rating : 4 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in March, 2009

Ketika jalan-jalan ke Gramedia Bintaro Plaza, si Sulung ingin membelikan bundanya buku "Ken Arok" yang sudah sejak lama ada dalam daftar keinginan. Tapi berhubung enggak tega untuk menguras uang sakunya karena harganya yang cukup mahal, sementara si Sulung tetap memaksa untuk membelikan bundanya buku, akhirnya agar tidak mengecewakannya -- setelah pilah pilih -- akhirnya pilihan jatuh pada buku "Incest" ini.

Ketertarikan membeli buku ini pertama karena judul dan sampul bukunya. Terlebih ketika membaca sinopsis di belakang buku menyatakan bahwa cerita ini telah memenangkan lomba penulisan novel tahun 2003 tetapi terpaksa dihentikan publikasinya di Bali Post karena dianggap membawa aib bagi masyarakat Bali. Dan keberanian menulis cerita ini telah memicu terjadinya "pengadilan" adat kepada penulisnya, I Wayan Artika sehingga beliau mendapatkan vonis dikeluarkan dari desa adat selama 5 tahun dan beliau menerima putusan itu demi menghormati kultur-historis-religius adat desanya... maka rasanya tidak salah kalau pilihan akhirnya jatuh pada novel ini.

Incest diawali dengan kepulangan Putu Geo Antara ke kampung halamanya di desa Jelungkap, Bali untuk mengabdikan ilmunya dengan meninggalkan Jakarta dan karirnya pada sebuah perusahaan. Dengan idealismenya Geo Antara menyatakan bahwa desanya adalah rumah yang harus dibangun dan dari sana ia akan membangun masa depan, sementara banyak teman-temannya yang mempertanyakan apakah di desa kecil itu intelektualitas bisa mendapatkan rumahnya. Kepulangan Geo Antara tersebut tanpa ia sadari merupakan jalan hidup yang dibaliknya sendiri.

Geo Antara terlahir sebagai kembar buncing (kembar berlainan jenis kelamin, saudarinya bernama Gek Bulan). Adat lama Bali menganggap kelahiran semacam ini adalah aib dan pembawa bencana sehingga orang tua mereka Nyoman Sika dan Ketut Artini beserta kedua bayi kembar mereka harus diasingkan selama 42 hari di sebuah gubuk di luar desa dekat dengan areal pemakaman.
Setelah masa pembuangan usai, Nyoman Sika dan Ketut Artini masih harus menyelenggarakan upacara untuk membersihkan aib dari kelahiran anak mereka. Selanjutnya seluruh warga desa oleh adat diminta untuk merahasiakan kelahiran tersebut dan orang tua mereka harus rela memisahkan kedua anak mereka sebelum mereka saling mengenal. Tujuannya adalah: kelak mereka akan dikawinkan dengan rahasia besar dibaliknya -- menutupi kenyataan bahwa mereka adalah sepasang anak kembar.

Hukum adat yang membuat kehormatan mereka tercampakkan ini terpaksa mereka jalani hanya karena kekuasaan adat yang sangat kuat yang oleh orang-orang Jelungkap dimaknai sebagai keadilan. Keadilan yang bagi Nyoman Sika dan Ketut Artini merupakan keadilan tanpa pengadilan. Hukum yang mereka sendiri tidak paham mengapa harus mereka jalani hanya karena melahirkan bayi kembar buncing, yang sama sekali bukan kesalahan mereka. Namun walaupun dianggap sebagai aib, Nyoman Sika dan Ketut Artini tetap mensyukuri kelahiran bayi kembar mereka dan tetap tabah menjalani hukum adat tersebut, karena bagi mereka ketabahan adalah bekal tanggung jawab agar mereka sanggup berdo'a dengan tulus untuk keselamatan anak-anak mereka.

Apakah yang kemudian dialami Geo Antara dan Gek Bulan setelah mereka menikah dan menemukan rahasia besar di antara mereka ??? Rasanya tidak etis untuk dibocorkan disini.

Mengutip kata pengantar yang disampaikan Raudal Tanjung Banoa bahwa dalam niatnya yang paling "luhur", novel ini ingin bercerita saja, apa adanya. Perkara di dalam cerita terdapat sejumlah referensi, fakta atau "cerita bayangan" tentang nasib pengarangnya, anggap saja nilai tambah untuk mengkoreksi mainstream eksotisme Bali, atau menggugat pemasungan kreativitas, yang kali ini, dilakukan atas nama adat.

Well Temans, pada akhirnya novel ini memang layak untuk dibaca, entah sekedar sebagai bacaan pengisi waktu di kala iseng ataupun sebagai penambah wawasan kita tentang kultur yang berlaku di tanah air kita. Saran saya: segera masukan novel ini dalam "to read" shelves...

HAPPY READING....!!!

Nar’Kobar: The Motivator



By : Andhika_Pramajaya
Published : 2006 by AKOER

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-beli, my-shelf
Status : Read in August, 2009

Hasil hunting di PBJ 2009. Dari 68ribu jadi 15ribu. Lumayan !!

Beli buku ini cuma karena iseng aja, kok gambar sampulnya serem banget. Tapi ternyata isinya gak seseram covernya lho.

Buku ini bercerita tentang seekor jin bernama Nar’Kobar dari ras Naruut, jin yang menurut Eyang Reksa Geni pada dasarnya berhati baik (karena pada dasarnya sifat jin itu adalah untuk menjerumuskan manusia untuk berbuat dosa). Nar'kobar bersahabat dengan Grewok (jin dari ras gendropati/genderuwo dan Nyi Endeh (jin dari ras kuntilanak yang diceritakan cukup cantik dan menjadi gebetannya di Grewok). Dalam proses untuk naik ke tingkat jin yang lebih tinggi, Nar'kobar harus mempengaruhi "nipingan"-nya (manusia yang diikutinya), seorang gadis cantik bernama Lena agar mau berbuat dosa. Sayangnya usaha Nar'kobar tidak semudah yang dibayangkan karena Lena adalah gadis yang taat, terlebih lagi ada seorang cowok bernama Ipung yang sedang "pdkt" ke Lena. Akhirnya dengan bantuan Putri Larasati yang menjadi "takir"nya. Nar'kobar berhasil menipu para jin Evaluator dan berhasil naik tingkat tanpa harus membuat Lena menjadi manusia "gampusan". Pada saat akan meninggalkan Lena, ternyata Nar'kobar harus menitikan air mata kesedihan karena merasa sudah begitu dekat dengan Lena. Oohhh... ternyata....

Walaupun ada beberapa bagian yang terasa membosankan, tapi buku ini cukup lumayan untuk melihat sisi kehidupan bangsa jin dari kaca mata yang berbeda (sama sekali enggak serem, malah bikin mesem-mesem). Entah menggunakan daya imajinasi yang bagaimana Andhika membuat setting tentang alam jin ini, ataukah dia memang pernah survey ke sana..??

Feb 18, 2010

Zaky, My Autistic Brother



By : Atikah Haira Bagawan
Published : August 2009 by Mas Publishing
Details : Paperback, 84 pages
isbn13 : 9789791852012

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-minjem
Status : Read in August

Thanks to TeDy yang udah memberi kesempatan pertama untuk membaca buku ini.

Buku yang sangat menyentuh.
Atikah, seorang siswa SMA yang mempunyai seorang adik penyandang autis menuturkan bagaimana ia menjalani hari-harinya bersama adiknya tersebut.
Satu ungkapan yang paling menarik dari Atikah adalah....
"Tak semua anak cacat itu cacat, dan tak semua anak normal itu normal". Suatu ungkapan yang menggambarkan betapa ia sangat menerima dengan sepenuh hati keberadaan dan keadaan Zaky, adiknya yang menyandang autis.
Karena bagaimanapun juga mereka tidak pernah memilih untuk dilahirkan sebagai penyandang autis. Kalau saja mereka bisa memilih, maka mereka akan memilih untuk dilahirkan sebagai manusia normal seperti yang lainnya, tetapi semua itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa, dan dibalik itu semua, Allah pasti mempunyai rencana terbaik bagi umatnya.

Tangis Rembulan di Hutan Berkabut



By : S. Prasetyo Utomo
Published : February 1st 2009 by H2O Publishing
(first published 2009)
Details : Paperback, 120 pages
isbn13 : 9789791936705

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-beli, my-shelf
Status : Read in August, 2009

Gramedia Mall Taman Anggrek 26 Agustus 2009 Rp. 25.500,-

Alasan membeli buku ini adalah karena tertarik tulisan yang terdapat pada sampulnya:
"Novel ini menghanyutkan perasaan dan emosi pembaca ke dalam arus serta pusaran cerita yang mengesankan sejak awal hingga akhir"
(Ahmad Tohari, sastrawan Pengarang Fenomenal Trilogi Ronggeng dukuh Paruk).


Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama (yang pada akhir cerita baru menyebutkan namanya) dan menggunakan setting sebuah desa di tepi hutan jati.

Sang tokoh utama adalah seorang wartawan yang baru aja kehilangan pekerjaan karena berbeda pandangan dengan pimpinannya. Ia lalu pergi menyepi ke rumah kakak tirinya, Gun yang bekerja sebagai mantri hutan yang tinggal di sebuah rumah di tepi hutan jati yang dijaganya.

Betapa mengenaskan melihat hutan yang merupakan paru-paru dunia dibabat dengan seenaknya demi keuntungan beberapa golongan dengan alasan yang dipaksakan. Negara kita mempunyai kawasan hutan yang sangat luas, tapi anehnya kok pemerintah hanya mempekerjakan seorang mantri hutan untuk menjaga wilayah hutan tersebut, itupun hanya difasilitasi dengan peralatan seadanya. Gun harus berjalan kaki seorang diri masuk ke dalam hutan setiap malam (terkadang ditemani oleh sahabatnya, Kang Min) dan hanya bersenjatakan pistol yang kurang memadai, sementara para pencuri kayu berjumlah banyak dan bersenjatakan kapak dan gergaji mesin. Sebenarnya pemerintah serius enggak sih dalam memelihara kelestarian hutan kita ? Atau mempekerjakan seorang mantri hutan hanya merupakan "basa-basi" saja agar terlihat peduli ? Karena seperti yang kita tahu ternyata masih banyak golongan yang memegang lisensi membabat hutan.

Saya kagum dengan tokoh Gun disini. Betapa ia seorang yang tegas dan memegang teguh prinsipnya bahwa hutan harus diselamatkan, tak tersentuh sedikitpun oleh keserakahan lewat tawaran yang menggiurkan yang ditawarkan oleh aparat desa. Sayang pada akhirnya ia harus kehilangan sebelah kakinya dalam suatu pertikaian dengan para perusak alam tersebut (kakinya terkena kapak). Dengan kakinya yang hanya satu, Gun terpaksa pensiun dan ironisnya ia harus menyaksikan mantri hutan penggantinya bersekongkol dengan para pencuri kayu membabat hutan.

Tapi saya kok sebel banget sama tokoh utamanya ya. Seorang wartawan kok enggak berani melakukan sesuatu demi menyalurkan aspirasinya. Jangankan untuk berbuat banyak bagi orang lain, demi menyelamatkan harga dirinya sebagai laki-laki aja enggak dia lakukan kok. Aneh banget !

Ia hanya diam menyaksikan kejahatan yang terjadi, diam menyaksikan kematian Lik Sukro yang tidak wajar, diam menyaksikan sebuah gubuk dibakar oleh seorang suruhan dari lurah yang kalah dalam pencalonan dan menewaskan 2 orang di dalamnya sementara ia sendiri tahu siapa orang yang membakar gubuk tersebut, dan diam atas peristiwa yang menimpa Gun, kakak tiri yang sangat dikaguminya itu.

Ia juga cuma diam ketika Sekar, calon istrinya dikencani laki-laki lain hingga hamil. Itupun ia masih mau menerima keadaan Sekar (padahal jelas-jelas Sekar hamil karena ke"liar"annya sendiri.) Eh, masih juga diam waktu menjelang hari pernikahan Sekar malah minggat dan memilih menjadi istri ketiga dari seorang dalang. Duh... laki-laki macam apa sih dia ?
bener-bener nyebelin deh.

Untungnya rasa sebel yang timbul cuma karena bumbu cerita aja. Tokoh Gun tetap membuat saya kagum. Mudah-mudahan masih banyak "Gun" yang lain yang bersedia berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dunia. Dan sudah selayaknya pemerintah memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang seperti mereka... orang-orang yang tidak membiarkan keserakahan dan kesombongan menghancurkan dunia.

Dunia kita sedang sekarat, tapi anehnya banyak yang tidak peduli. Padahal bumi yang kita tempati sekarang bukanlah milik kita. Kita hanya meminjam dari generasi yang akan datang. Bukankah selayaknya kita jaga dengan baik agar kita tidak malu ketika tiba waktu untuk mengembalikannya kepada mereka ??

Boeron Dari Digoel



By : Wiranta
Published : July 1st 2000 by Tamboer Press
Details : Paperback, 94 pages
isbn : 979946000X

Rating : 2 of 5 stars
Bookshelves : buku-beli, my-shelf
Status : Read in September, 2009

Bongkar rak buku dan nemu buku ini.. ternyata dulu belinya di World Book Fair 2007 (2 tahun menunggu di rak buku... ck...ck...ck...).

Buku ini bercerita tentang perjalanan usaha pelarian 7 orang tawanan dari Boven, Digul.

Begitu mulai membaca, mendadak terserang penyakit bingung scara susunan tata bahasanya yang "enggak biasa". Simak saja kalimat yang diucapkan Soedjito ketika rencana pelarian telah matang... "Ya..., perginya seboleh-boleh tunggu malam tidak ada bulan, juga musti banyak lagi yang musti kita sediakan, umpamanya: bekal buat makan di jalan, obat-obatan, korek api dan tembakau buat sogok hatinya orang Kaya-Kaya, kelambu dan selimut..., ya dan lainnya pula... Nou sekarang sudah hampir pukul 5..., ayo kita pergi pulang, dan... ingat, ya, hal ini jangan sampai tembus di lain orang."

Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2000 tetapi bercerita tentang keadaan ketika Indonesia masih berada di bawah jajahan Belanda.
Boven, Digul adalah salah satu kabupaten yang terletak di pulau Papua dan berbatasan langsung dengan negara Papuan New Guenea dan beribukota di Tanah Merah. Pada masa penjajahan Belanda digunakan sebagai tempat pembuangan khusus para pemuda yang terlibat dalam Pergerakan Nasional Indonesia (M. Hatta dan Sutan Syahrir pernah dibuang di tempat ini).

Seandainya saja penulis juga menceritakan perjuangan yang dilakukan para tokoh cerita ini dalam Pergerakan Nasional Indonesia
-sehingga harus menjadi penghuni tempat ini- tentulah buku ini akan lebih menarik ketimbang hanya menceritakan kisah pelarian mereka dengan berbagai risiko yang membahayakan.

Dikisahkan Soedjito dan 6 temannya mencoba melarikan diri dari Boven, Digul. Berbagai rintangan mereka hadapi... dari diserang buaya, Soewirdjo yang meninggal karena terserang penyakit kencing hitam (ada yang tau penyakit apa ini ?), terbawa arus sungai karena banjir bandang, diserang suku primitif sampai serangan ular sanca. Akhirnya hanya 3 orang dari mereka (Soedjito, Kamlin dan Roesman) yang sampai ke perbatasan. Mereka lalu ditahan di Thursday Island karena tidak memiliki surat-surat. Seharusnya setelah menjalani masa tahanan 6 bulan, mereka akan dibebaskan dan dapat menjadi warga negara tersebut. Sayangnya, pada hari ke 14, mereka dijemput oleh beberapa tentara dari Boven, Digul yang kembali membawa mereka ke tempat pembuangan tersebut.

Pelarian yang sia-sia !!

Tanah Tabu



By : Anindita S. Thayf
Published : May 2009 by PT Gramedia Pustaka Utama
Details : Paperback, 237 pages
Literary awards :
Khatulistiwa Literary Award Nominee for Prose (2009), Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (2008)
isbn : 9792245677 (isbn13: 9789792245677)

Rating : 5 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in September, 2009

"Ketahuilah Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan-jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata-mampu membuat siapapun dilupakan kodratnya sebagai manusia". (hal.163)

Betapa kata-kata ini mampu menghipnotisku untuk mengulang-ulangnya lagi dalam setiap denyut nadiku.

Mabel, Mace Lisbeth dan Leksi, potret kehidupan perempuan yang tidak ingin terbelenggu oleh tradisi kebodohan dimana perempuan sama sekali tidak dihargai. Mereka berusaha keras untuk menjadi orang-orang pandai yang dihargai ditengah segala keterbatasan mereka.

Berlatarbelakang kehidupan suku Dani di Papua, Anin mengangkat kisah kehidupan yang sangat menarik. Dimana orang2 Papua yang seringkali dianggap bodoh dan terbelakang oleh masyarakat kota seperti kita ternyata memiliki mata hati yang lebih tajam, memiliki hati nurani yang lebih mulia. Mereka ingin tetap menjaga alam yang telah memberikan mereka kehidupan walaupun ternyata mereka tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mencegah datangnya orang2 yang mengeruk seluruh kekayaan dari tanah mereka dengan alasan untuk lebih 'memanusiakan' orang2 Papua. Justru tindakan mereka jauh lebih kejam dari binatang, kalau sudah begini, siapakah yang harus lebih di'manusia'kan ? Mereka atau para pendatang itu ?

Membaca buku ini di satu sisi membuat aku tersenyum karena seperti mendengarkan cerita dari 2 ekor hewan yang semula tidak saling menyukai. Tapi di sisi lain membuat aku sempat menangis dan malu. Menangis karena begitu tidak adil kehidupan ini bagi Mabel, Mace Lisbeth dan Leksi, malu karena hewan seperti Pum dan Kwee saja mempunyai pola pikir menggunakan hati nurani yang bersih. Aku melihat bahwa Pum dan Kwee lebih mulia dari para manusia yang serakah. Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang paling sempurna, tapi dalam kenyataannya, manusia secara sengaja telah merendahkan diri mereka hingga lebih rendah dari binatang hanya karena hati mereka telah dikuasai oleh sebuah kata 'keserakahan'. Ironis memang.

Lihat saja nasib Mabel pada akhirnya, keteguhan hatinya untuk menyerukan kebenaran justru harus membawanya kepada penderitaan yang berulang.

"Takdir adalah peta buta kehidupan yang kau tentukan sendiri arah dan beloknya berdasarkan tujuan hidupmu. Takdir akan berakhir buruk jika kau tidak berhati-hati menjaga langkah".(hal.170)

This is such a great book. Two thumbs up for Anin.

For Jimmy: thank you for giving me this book.
*tetap bersabar menunggu peristiwa 10 tahun sekali terulang*

Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti



By : Winna Efendi (Goodreads Author)
Published : 2009 by Gagas Media
Details : paperback, 288 pages
isbn : 9797803074 (isbn13: 9789797803070)

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in August, 2009

Bacaan yang ringan tapi menarik....

...persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu...

Ketika usai bermetamorfosis dari ulat-kepompong-lalu menjadi kupu-kupu dengan sayap lembut nan cantik. Dengan keindahan warna sayapnya yang mampu membuat siapapun terpesona memandangnya, kupu-kupu itu akan terbang di dalam taman kehidupan yang penuh dengan bunga berwarna-warni, mengisap seluruh aroma manis yang ada pada bunga-bunga tersebut.

Begitulah persahabatan... sesuatu yang sangat indah bagi siapapun yang memilikinya.

Ai dan Sei, dua anak manusia yang bersahabat sejak kecil. Kebersamaan yang panjang telah membuat mereka saling membutuhkan walau pada akhirnya masing-masing dari mereka menyimpan rasa cinta yang tak terungkapkan.
Kemudian hadir Shin diantara mereka yang lalu menjadi kekasih Ai dan tentu saja melukai perasaan Sei, tetapi Sei dengan caranya sendiri, bisa menerima semua itu demi melihat Ai bahagia. Tapi kemudian Shin meninggal dalam sebuah kecelakaan, Ai terpuruk dalam kesedihan yang dalam, dan pada saat seperti itu, Sei tetap setia mendampinginya dengan segenap rasa cinta yang dimilikinya. Waktu telah membuktikan bahwa kekuatan cinta Sei pada akhirnya membawa Ai ke dalam pelukannya untuk selamanya.

Special note:
Disini, aku hanya ingin berkata bahwa aku ingin mencintaimu secara sederhana, dimana hanya kau yang bisa memahami maknanya, selamanya...
(ini review apa curhat sih... ?)

Thanks to Mas Sus for giving me this book.
(dengan tangan dan hati yang terbuka, selalu siap untuk menerima pemberian buku-buku lainnya).
*ngarepdotcom*

Feb 16, 2010

Perahu Kertas



By : Dee
Published : August 29th 2009 by Bentang Pustaka & Truedee
Details : Sofcover 456 pages
isbn13 : 9789791227780

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in September, 2009

Thank you so much to Mas Sus for giving me this lovely book.

Awal membaca buku ini kok kayak baca kisah cinta remaja yang terlalu biasa ya... tapi memasuki bab-bab berikutnya ternyata memang beda.

Kugy & Keenan, dua tokoh sentral dalam buku ini bener2 bikin aku gemez karena dua-duanya enggak berani mengungkapkan perasaan mereka selama bertahun-tahun. Tapi kalo mereka cepet tau bahwa ada cinta diantara mereka, pasti bukunya enggak akan setebel ini dan mungkin juga ceritanya enggak akan jadi semenarik ini.

Aku terharu banget waktu membaca kebahagiaan Kugy & Keenan saat berada di lingkungan anak didik mereka di Sakolah Alit, membagikan ilmu yang mereka miliki bagi kalangan yang tidak mampu... sebuah kebersamaan yang sederhana tapi bermakna sangat dalam. Dan aku sempet nangis waktu beberapa tahun kemudian mereka menemukan bahwa tempat mereka mengajar telah tergusur oleh pembangunan perumahan dan orang-orang kecil tersebut semakin tersingkirkan dan mereka hanya menemukan nisan bisu dari seorang maskot mereka... "Jenderal Pilik" yang meninggal karena sakit dan tidak memiliki cukup biaya untuk berobat.

Juga enggak kebayang dech sama aku perasaan Luhde dan Remi yang begitu berani mengambil sikap untuk mengakhiri sebuah hubungan dimana mereka mengetahui bahwa mereka tidak pernah memenangkan hati orang-orang yang mereka cintai. Memberikan kesempatan kepada kekasih mereka untuk menemukan tempat yang tepat bagi hati dan cinta kekasih mereka.Karena yang sering aku temukan dalam kehidupan nyata adalah orang yang sering memaksakan perasaan orang yang mereka cintai untuk juga memiliki perasaan yang sama. Luhde dan Remi, manusia-manusia yang memiliki hati dan cinta yang tulus... melepaskan kekasih mereka pergi walau harus tersakiti (kenapa sih kok di akhir cerita Dee enggak membuat mereka saling jatuh cinta aja dan menemukan kebahagiaan mereka sendiri ?).

Bagiku, Kugy & Keenan adalah manusia-manusia yang sangat beruntung. Mereka bisa mewujudkan cinta dan cita-cita mereka, menggenggam semua impian mereka walau harus menempuh jalan berliku dan waktu yang cukup lama.

Seperti yang ditulis Dee di hal. 438 bahwa setiap dari kita punya mimpi, punya hobi dan punya kata hati, tapi tak semua dari kita berkesempatan untuk menjadikannya profesi.
dan di hal 430:
Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak pernah memilih. Ia selalu tahu kemana harus berlabuh.
dan aku pernah membaca sebuah kalimat (entah dimana, lupa) never try to find love, just let love finds you.

Pada akhirnya Kugy & Keenan mendapatkan kedua hal tersebut.
Kegigihan telah membawa mereka pada wujud nyata dari impian dan cita-cita mereka dan cinta yang kuat telah membawa mereka kembali bersama buat selamanya.

Aku ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Kugy & Keenan, tapi...
SUMPAH !! Aku ngiri setengah mati.

GokilDad



By : Iwok Abqary (Goodreads Author)
Published : 2009 by Gradien Mediatama
Details : Soft Cover, 160 pages
isbn13 : 9786028260190

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-beli, my-shelf
Status: Read in September, 2009

Gramedia Mall Taman Anggrek
Idul Fitri, 20 Sept 2009

Menjadi orang tua itu gampang-gampang susah.
Merepotkan sekaligus menyenangkan.
Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua.
Bukan anak saja yang belajar dari orang tuanya, tetapi dalam banyak hal-pun orang tua belajar dari anak2nya.

Iwok menceritakan pengalamannya sebagai seorang ayah dengan cara yang berbeda... lucu dan menghibur.

Hari ini selain karena kita semua merayakan Idul Fitri, aku sangat bersyukur kepada ALLAH SWT karena terlahir sebelum Iwok dilahirkan. Dengan kondisi seperti itu kan aku terhindar dari takdir yang memungkinkan aku punya "bapak gokil" kayak Iwok... yang jiwa narsisnya udah merasuk ke dalem tulang sumsumnya bikin yang ngeliat ngerasa najis tralala deh. Kalo sampai hal itu terjadi, enggak kebayang betapa buruknya nasibku...hehehehe...
*pisss mas Iwok, pissss.........*

yang pasti, aku suka buku ini.

Mencari Matahari



By : Gola Gong
Published : December 2007 by Zikrul Hakim
Details : softcover, 125 pages
isbn : 9789792623 (isbn13: 9789792623338)

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in September, 2009

Thanks to Mas Sus for giving me this book...

Aku tak pernah bisa menemukan 'Matahari', walau aku tak pernah menyerah untuk mencarinya. Tapi kini, tanpa aku duga, aku menemukan 'Rembulan'. Padanya aku seperti melihat setitik cahaya yang aku cari.

Al seorang anak manusia yang dilahirkan dari kelamnya dunia kehidupan, tak pernah mengenal siapa orang tuanya... menjalani kehidupan sebagai 'Anak Malam'... memiliki segala kemewahan yang ingin dimiliki oleh orang lain tapi tidak memiliki apa yang orang lain miliki.. 'cinta'. Banyak kepahitan dalam hidup ini yang ia jadikan pelajaran yang pada akhirnya membawa ia kembali pada jalan-NYA.

Tiba-tiba aku jadi ingat mati. Aku takut memikirkannya. Apa yang akan aku bawa pada Tuhan-ku nanti ?

Bagaimana dengan kita ??

Pesan dari Nam - Message from Nam



By : Danielle Steel
Published : 2005 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1990)
Details : 504 pages
isbn : 9792211551

Rating : 4 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in October, 2009

……..
Harapan-harapan seluruh bangsa,
seluruh generasi
Di kirim ke perang

Sekelompok pria tua
Memimpin seluruh anak-anak kita ke kematian
Sementara kita melihat dalam ketakutan, dalam kesakitan.
Dengan rasa tak percaya
Bahwa kita harus kehilangan begitu banyak anak kita

..........

Cerita ini dibangun dari keadaan pada akhir tahun 60 – awal tahun 70’an yang terjadi di Amerika dan Vietnam. Dibangun dari konflik kedua negara tersebut yang meminta banyak korban dari kedua belah pihak.

Paxton Andrews kehilangan kekasihnya Peter yang tewas di Da Nang, Vietnam ketika mengikuti wajib militer. Rasa kehilangan dan kekecewaan membawanya ke Vietnam sebagai seorang wartawati untuk melihat apa yang sesungguhnya terjadi di sana.

Ternyata perang Vietnam merenggut semua orang-orang yang dicintainya… Peter, Bill, sahabatnya Ralph dan France, dan kemudian Tony. Perang Vietnam telah meninggalkan bekas yang amat dalam bagi Paxton (dan saya yakin, bagi semua orang yang mengalaminya), menjadikannya sosok manusia yang hidup seperti tanpa jiwa. Kematian demi kematian yang dilihatnya menimbulkan luka abadi di jiwanya.

Steel mengemas cerita ini dengan sangat apik. Konflik yang dibangun terasa begitu hidup dan pesan moral yang disampaikan begitu menyentuh. Kisah cinta yang dibangunpun terasa sangat wajar dan tidak cengeng. Usaha Paxton untuk menemukan kekasihnya, Tony yang dinyatakan ‘hilang dalam tugas’ sangat menyentuh. Kekuatan cinta menjadikannya cukup ‘gila’ untuk kembali ke Vietnam dengan menanggung resiko yang sangat besar.

Dari Vietnam, Paxton menulis kolom “Pesan Dari Nam” untuk Koran The Morning Sun di San Fransisco. Ia menuliskan segala kebenaran (kegilaan, kepedihan, kehancuran, kehilangan) yang ia lihat di sana. Tulisannya membuka mata banyak pihak untuk melihat kesombongan negaranya untuk mengakui kesia-siaan sebuah perang yang telah meminta begitu banyak korban… meninggalkan begitu banyak luka dan penderitaan…

Perang pada kenyataannya tidak pernah dimenangkan oleh pihak manapun juga… perang adalah kekalahan yang harus ditanggung oleh pihak-pihak yang terlibat… kalah karena gagal menundukkan kesombongan diri. Kesombongan yang harus dibayar mahal dengan mengorbankan begitu banyak putra-putra terbaik mereka. Bukankah akan lebih bermartabat sebuah bangsa bila para pemimpinnya bisa membicarakan perselisihan dengan kepala dingin dalam suatu perundingan dan mencari penyelesaian tanpa kekerasan… karena peperangan, apapun alasannya, hanyalah sebuah kesia-siaan.

..........

Ingat teman-teman, ingat….
Anak-anak yang meninggal
Yang hidup, yang menangis
Anak-anak yang berperang di Nam.

Thank you to Mas Ade for giving me this book. I really like it.

The Boy Who Ate Stars (Anak Lelaki yang Menelan Bintang-bintang)



By : Kochka, Satya Utama Jadi (Illustrator), Rahmani Astuti (Translator)
Published :August 2008 by PT Gramedia Pustaka Utama
(first published March 7th 2006)
Details : paperback, 104 pages
isbn13 : 9789792239270

Rating : 4 of 5 stars
Bookshelves : buku-minjem
Status : Read in October, 2009

Buku yang bercerita tentang autisme selalu menarik buat saya. Bukan karena kebetulan sehari-hari saya bergelut dengan dunia ini, tetapi bagi saya pribadi, para penyandang autis (autistik) adalah manusia-manusia yang sangat unik dan menarik.

Banyak orang yang melihat autisik sebagai mahluk 'aneh' yang membuat mereka enggan untuk berdekatan. Bahkan tak jarang ada yang mencemoohkan dan mengolok-olok mereka, hal yang teramat sangat membuat saya marah dan sangat sedih.

Autisme: adalah penarikan diri patologis ke dalam dunia batin yang mengakibatkan hilangnya kontak dengan realitas dan ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Jadi autistik bukanlah sesuatu yang menakutkan. Tuhan menciptakan mereka (tentu bukan tanpa maksud) sedikit berbeda dengan kita, yang bagi beberapa orang disebut sebagai 'kekurangan', tetapi bagi saya adalah suatu 'keistimewaan'. Mereka boleh saja lebih menikmati dunia mereka sendiri sehingga tidak mempedulikan sekeliling mereka, tetapi mereka adalah orang-orang yang selalu jujur terhadap naluri mereka sendiri.

"Kau hanya memahami hal-hal yang bisa kau jinakkan"
"Apa yang harus kulakukan untuk menjinakkanmu?"
Kesabaran.... (hlm. 84)

Ya... Kesabaran !! Hanya itu kata kuncinya. Untuk bisa memahami dan bersahabat dengan para penyandang autis bukanlah hal sulit (walau tidak bisa dibilang mudah). Kita hanya perlu mencoba untuk memasuki dunia mereka, berada di sana, merasakannya dan menikmatinya. Kita kemudian akan menemukan kebahagiaan tersendiri bersama mereka dan rasa syukur yang tiada habisnya karena Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk berada dekat dengan mereka. Kesabaran akan menumbuhkan pemahaman yang mendalam terhadap mereka... memang butuh waktu... tetapi bukankah kasih sayang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan bersemi ?

Saya sangat kagum pada tokoh utama cerita ini, Lucy dan Theo sahabatnya. Mereka, dengan kejujuran sudut pandang kanak-kanak mereka, tidak menganggap Matthew sebagai seseorang yang harus dihindari. Mereka justru sangat tertarik kepada Matthew, berteman dan memahami Matthew dengan segala kejujuran dan keunikannya. Dengan cara bertutur yang sederhana, kita dibawa ke dalam suatu dunia yang berbeda dari yang pernah kita alami di dunia nyata.

Simaklah apa yang mereka temukan dari persahabatan mereka dengan Matthew:
Kau hanya bisa melihat dengan hatimu,
sebab matamu tidak sanggup menangkap apa yang penting.
(hlm.84)

Suatu hari dia akan berubah menjadi orang biasa. Dan itu bukan hanya dalam berkomunikasi, tapi dalam pembauran total. Dia akan menjadi lebih baik ketimbang kita. (hlmn.62)

Saya percaya, para penyandang autis suatu hari akan berubah menjadi orang biasa. Dan mereka akan menjadi lebih baik dari kita.

Notes:
For my beloved 'kids'... Kevin & Kenneth. I Love You just the way you are.... and thanks to Yuna for borrowing me this book.

Feel - What I Want in Life



By : Wulan Guritno, Adilla Dimitri
Published : October 21st 2009 by Edelweiss
Details : Paperback, 244 pages
isbn : 9789791962

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-beli, my-shelf
Status : Read in December, 2009

Thanks to Mas Sus for buying me this book...

“Apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidup ini ?”
Pertanyaan itulah yang dilontarkan Tammy pada saat terakhir sebelum terjadi kecelakaan yang merenggut nyawanya. Pertanyaan yang kemudian selalu menghantui Kanya kemanapun ia pergi. Pertanyaan yang kemudian membawanya ke Bali untuk mencari jawabannya.

Berhasilkah Kanya menemukan jawabannya di Bali ?

Mungkin YA.
Tapi buat saya sebenarnya Kanya hanya butuh waktu untuk menghilangkan kesedihannya karena kehilangan Tammy. Tammy yang telah menjadi sahabatnya sejak kecil, Tammy yang selalu memahaminya dibandingkan siapapun di dunia ini setelah mamanya.

Kanya adalah anak manja yang terbiasa dengan kekayaan ayahnya. Sehingga hidup menjadi kurang berarti baginya karena segala yang ia miliki terlalu mudah untuk didapatkan. Bukankah segala sesuatunya menjadi lebih berarti bila kita mendapatkannya dengan sebuah usaha ?
Bandingkanlah betapa berartinya sepiring nasi bagi seorang miskin yang harus bekerja keras seharian untuk mendapatkannya dibandingkan dengan para konglomerat yang mungkin menganggap hal itu biasa-biasa saja.

Barangkali begitu juga dengan cinta… banyak orang cenderung meninggalkan orang yang jelas-jelas sangat mencintainya untk mengejar cinta yang lain. Karena apa ?? Karena orang yang sangat mencintai kita memberikan cintanya tanpa diminta. Kita bisa memilikinya tanpa harus berjuang untuk medapatkannya. Itulah manusia, yang seringkali tidak mensyukuri apa yang dimilikinya, karena segala sesuatu menjadi lebih berarti ketika sudah tidak kita miliki (mudah-mudahan kita tidak termasuk di dalamnya).

Ada kata-kata yang sangat mengusik saya di novel ini;
“Memangnya kita ngapain hidup di dunia ini kalau bukan nunggu mati ? Memang semua orang itu hakikatnya sedang antri, menunggu giliran untuk mati. Yang membedakan adalah apa yang dilakukan orang selama menunggu mati itu datang” (hlm.15).
Sangat mengingatkan saya bahwa setiap hari kita sedang melangkah menuju ke
kematian.

Orang tidak akan pernah tau artinya bahagia bila ia tidak pernah merasa sedih, tidak akan pernah tau artinya cukup bila ia tidak pernah merasa kurang, tidak pernah tau artinya senang bila ia tidak pernah merasakan susah.

Kalau menurut saya (ini cuma menurut saya lho), untuk menjadi bahagia itu enggak susah kok. Cukup menjalani hidup ini dengan ikhlas. Karena dengan begitu kita tidak akan pernah tenggelam dalam kekecewaan karena tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Bukankah TUHAN selalu tahu apa yang terbaik bagi kita… untuk itulah DIA selalu memberikan apa yang kita butuhkan, dan bukan apa yang kita inginkan. Segala pertanyaan dalam hidup ini bisa kita temukan di kedalaman hati nurani kita kok. Jadi syukurilah apa yang kita miliki. Jalani hidup ini apa adanya… dan tentu saja dengan usaha yang maksimal. Bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan akan membuat hidup kita jauh lebih berarti.

Well…. LIFE IS TOO SHORT TO WORRY. ENJOY YOUR LIFE THEN.

Kubah



By : Ahmad Tohari
Published : August 2005 by Gramedia Pustaka Utama
(first published 1980)
Details : Mass-market paperback, 189 pages
Literary awards : Penghargaan Yayasan Buku Utama (1981)
isbn : 9796051761 (isbn13: 9789796051762)

Rating : 3 of 5 stars
Bookshelves : buku-hadiah, my-shelf
Status : Read in November, 2009

Thanks to Asrori for giving me this book....

Ide cerita yang diangkat sih biasa2 saja tentang seorang bekas tahanan politik yang mengalami berbagai keraguan dan ketakutan ketika harus kembali ke dalam masyarakat. Takut dan ragu tindakannya di masa lalu masih meninggalkan luka dan dendam.

Tetapi bukan Ahmad Tohari namanya bila masalah yang umum ini menjadi biasa saja. Dengan mengambil setting cerita tentang peristiwa 'Gerakan 30 September' kisah ini menjadi berbeda. Kalimat yang dirangkai dengan penggambaran suasana dusun yang kental membuat kita jelas dapat membayangkan cerita tersebut seperti melihat tayangan di televisi.

Sepanjang cerita dikisahkan secara kilas balik bgm keterlibatan sang tokoh pada kegiatan partai politik yang akhirnya menyeretnya ke pengasingan di pulau B selama 12 tahun. Kehilangan kepercayaan diri dan harus merelakan sang istri menikah lagi. Perenungan diri yang akhirnya kembali menyadarkannya akan kebutuhan seorang manusia akan Sang Pencipta. Pada akhirnya, keraguan dan ketakutan itu sama sekali tidak beralasan, semuanya berjalan dengan baik dan... happy ending.

Setelah menamatkan buku ini aku masih enggak ngerti kenapa judulnya harus 'Kubah' karena sejak halaman pertama masalah kubah ini tidak muncul sama sekali, baru pada bab terakhir masalah kubah ini dibahas dan teramat sangat sedikit. Tadinya aku berfikir kubah disini merupakan kata kiasan untuk melambangkan sesuatu, tetapi tyt aku salah duga (sok tau sih). Aku jadi berfikir kok judulnya maksa banget ya ? (tambah sok tau).

Pada akhirnya buku ini terasa sangat jauh di bawah RDP... terasa kurang menggigit..., tapi aku tetep suka dengan gaya penulisnya bertutur. Jadi tetap layaklah buat dikasih 3 bintang.